Tidak Konsisten dengan Ucapan Adalah Awal Kebohongan

Tidak Konsisten dengan Ucapan

Perbuatan dosa yang paling sering dilakukan manusia dalam hidup sehari harinya adalah berkata terhadap sesuatu dan tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Itulah dusta atau biasa disebut bohong.

Perkataan dusta/berbohong mudah dilakukan biasanya demi rancangan keinginan dalam kalkulasi otak manusia. Ketika pikiran individu menangkap bias dan terkalkulasi merugikan dirinya, di situlah potensi berbohong akan terbuka lebar.

Berbohong dalam ajaran Islam merupakan tanda dari orang munafik, orang yang dijamin tempatnya di neraka oleh Tuhan dengan tempat paling rendah (QS an-Nisa).

Banyak sekali kisah kebohongan yang dilukiskan dalam al-Quran. Begitu parahnya penyakit berbohong ini, dikisahkan kaum masa lalu bahkan berbohong tentang Tuhan. “Tuhan itu beranak, Sesungguhnya mereka memang senantiasa berdusta.” (QS ash-Shaffat).

Banyak cara mengetahui seorang berbohong atau tidak, biasanya dengan melihat gerakan mata yang tidak konsisten, tidak tajam dan tidak lurus ke depan. Namun cara ini tidak bagi pembohong professional. Bagi mereka yang sudah terlatih berbicara dengan tatapan tajam akan sulit dideteksi dengan cara ini.

Cara lain, adalah melihat konsistensi ucapan, karena sikap tidak konsisten dengan ucapan adalah awal dari kebohongan Harus melihat dari isi pembicaraan, kesesuaian dengan apa yang dikatakan dan dilakukan sebelum dan sesudahnya.

Saya punya kisah mendukung bahwa sikap tidak konsisten dengan ucapan adalah awal dari kebohongan. Cerita bersama teman lama.

Tahun 2006 lalu, saya memasukan proposal permintaan dana untuk pengembangan olahraga tradisional daerah. Pilihan saya jatuh pada olahraga sepak takraw. Karena program ini memang menjadi bagian dari program pemerintah daerah waktu itu, tak ada hambatan, bahkan proposal yang saya ajukan disetujui 100%.

Acara pun saya laksanakan sesuai dengan juknis pegangan, sukses dan mendapat “jempol” dari pemerintah daerah.

Tak lama berselang, saya ditawari untuk melaksanakan “proyek” yang mirip dengan sebelumnya. Bedanya, hanya pada persoalan anggaran. Kalau sebelumnya, anggaran include dengan pelaksanaan, kalau ini anggaran dipegang oleh pihak ketiga. Pihak ketiga inilah yang mencari dana, mengestimasi dan mempertanggungjawabkan pemakaiannya. Saya tak serta merta menerima tawaran itu, perlu pembicaraan lanjutan, saran saya. Diterima, dan pertemuan kami lakukan di salah satu warung kopi di kota.

“Anggaran yang saya ajukan, sudah disetujui, tinggal menunggu proses pencairan saja. Nanti kalau sudah cair, kita estimasi penggunaan anggaran dengan baik, karena hal itu kan terkait pertanggungjawaban juga. Yang terpenting anggaran digunakan seefisien mungkin. Untung boleh didkit dikit heheh” Katanya sambil terkekeh menyeruput kopi susu panasnya.

“Oh iya pak, yang penting tujuan dari proyek tercapai, dengan penggunaan anggaran yang tepat sasaran.” Jawabku singkat.

Opini Terkait
1 daripada 123

“Kalau saya untuk hal begini sudah pengalaman, tahun lalu saya kelola sendiri tapi acaranya terkait musik underground buat para remaja. Padahal waktu itu, pemda hanya membantu sekitar 20 juta saja. Untung saja ada dana tiket dan sponsor lain. Meski saya laksanakan, di ruang terbuka, tak masalah karena cuaca mendukung.” Cerita itu saya dengarkan seksama.

“Tahun lalu juga saya bekerja sama dengan Dispora untuk kejuaraan Volley. Alhamdulillah sukses juga. Saya laksanakan juga di lapangan terbuka. Lumayan untuk efesiensi anggaran” Paparnya lagi.

Pembicaraan terputus karena hp nya berdering. Dia beranjak sepertinya itu adalah pembicaraan privacy dan sedikit rahasia setidaknya buat saya. Tak lama kemudian dia kembali.

“Alhamdulillah barusan ada telepon, staf saya sudah mencairkannya. Bagaimana dinda?, kapan acaranya bisa terealisasi. Katanya sambil berseri.

“Saya perlu mengkalkulasi dengan baik format acara, anggaran dan target yang sudah dicanangkan oleh pemerintah daerah sebagai sponsor.” Jawabku.

“Bagaimana kalau dilaksanakan di lapangan tertutup?,” Dia bertanya.

“Tak ada masalah pak, lapangan tertutup saya suka, lapangan terbuka lebih saya suka karena efek promosinya lebih luas, dan yang terpenting itu tadi, semua sesuai dan bisa dipertanggungjawabkan dunia akhirat.” Jawabku sedikit cenderung ke lapangan terbuka, sambil tersenyum.

“Karena kalau lapangan tertutup, kita hanya berpikir sekali, yaitu biaya penggunaan gedung. Beda dengan lapangan terbuka kan? Pengamanan lebih, potensi perubahan alam, bahkan kapasitas penonton yang melebihi dari persiapan. Saya juga lebih suka dengan lapangan tertutup, tak pernah saya melakukan even di lapangan terbuka.” Paparnya panjang.

Saya menatapnya dalam-dalam. “Oh, loh. Maaf Pak, tadi katanya pentas music underground dan volley di lapangan terbuka?” Tanyaku ringan sambil terus menatapnya.

Dia gelagapan dan berusaha membangkitkan percaya dirinya kembali. sebentar namun semuanya terasa hambar. Semua pembicaraan yang terbangun sebelumnya runtuh tak tersisa. Apa yang dikatakan selanjutnya menjadi angin lalu yang tak penting. Sampai kemudian dia merasa dan pamit.

gunung kelud meletus
Ilustrasi

Jika sedikit ingin berpikir positif dengan memberikan ruang kepercayaan demi menjaga hubungan baik, bisa jadi kesalahan ucapannya dengan ucapan sebelumnya adalah refleksi kegembiraan dari berita dana sponsor telah cair. Tapi itulah inkonsistensi.

Tidak konsisten dengan ucapan adalah awal dari kebohongan, karena untuk menyembunyikan satu kebohongan diperlukan seribu kebohongan lain.

Loading...