Tiga Dimensi Penting Ibadah Kurban

Masih ingat dengan kecelakaan maut AQJ, anak Ahmad Dhani mengakibatkan 7 orang meninggal dunia?. Jika jeli membaca pemberitaan media, sepertinya semua menjadi korban. Baik penumpang GrandMax, sudah pasti mereka ditabrak oleh mobil AQJ, namun ada beberapa orang mengatakan kalau AQJ sendiri adalah korban. Bisa jadi, korban dari pendidikan yang tidak benar. Aneh. Itulah contoh kejadian dari makna korban sebagai orang, binatang yang menderita, mati, akibat suatu kejadian dan atau perbuatan jahat.

Berbeda dengan kata “kurban,” meski dalam beberapa kamus tidak membedakan korban dan kurban secara lafal, namun jelas artinya berbeda. Kurban, berasal dari bahasa Arab; akar kata dari qaruba-yaqrubu-qarban-qurbanan berarti dekat. Biasanya, korban dengan menggunakan kata kurban ini, menunjukan bentuk kerelaan dan kesetiaan. Contoh; “demi engkau aku rela berkurban,” padahal maksudnya berkorban. Kurban adalah perilaku dengan tujuan akhir mendekatkan diri kepada objek tempat berkurban.

Seperti yang sudah disyariatkan, pada tanggal 10 Zulhijjah, umat Islam merayakan Idul Adha, bertakbir seraya melaksanakan salat hari raya Ied. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, seperti yang telah dilakukan Nabi Ibrahim terhadap domba pengganti anaknya Ismail. Banyak hal seputar ibadah kurban melihat dari konteks dan kontennya. Bahkan sudah banyak tulisan kurban dari sisi filosofis. Celoteh ini sekedar mengulas tiga dimensi penting ibadah kurban;

Pertama; Ibadah kurban sebagai pembersih jiwa. Perintah berkurban dengan menyembelih binatang, tentu bukan tanpa hikmah bernilai di dalamnya. Banyak yang lebih mudah dikurbankan, banyak pula yang lebih sulit, tapi perintah mengatakan “salatlah dan sembelihlah binatang (sebagai kurban).” (QS. al-Kautsar). Allah Maha Bijaksana, memerintahkan berkurban hewan secara fisik, dengan tujuan utama membuang sifat binatang dalam diri manusia. Dengan membuang sifat kebinatangan jasadiyah kita, itulah kebersihan jiwa yang sesungguhnya.

Opini Terkait
1 daripada 303

Kedua: Ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan. Bercermin dari ketaatan Nabi Ibrahim, lama tidak dikaruniai anak, akhirnya ketika doa dan usahanya dikabulkan, perintah berlawanan justru menjadi pilihan. Tiga malam, waktu yang digunakan untuk men-validasi wahyu dari perintah itu. Ibrahim as pun yakin, dan bersedia berkurban meski anak kesayangannya jadi korban. Ibrahim sadar betul, istri, anak, kuda perang, emas, perak hanyalah perhiasan dunia belaka (QS. Ali Imran).

Sebagai hamba yang mengikuti millah Ibrahim, kita tak perlu menguji ketaatan kita dengan menyembelih anak sendiri. Toh Tuhan Maha Tahu dan tidak membebani hambaNya kecuali sesuai kemampuannya (QS. al-Baqarah). Bagi mereka yang mampu, berkurbanlah. Ini perintah. Perintah hanya dilaksanakan oleh orang-orang yang taat.

Ketiga: Ibadah kurban sebagai ibadah sosial. “Tidaklah sampai darah dan daging dari hewan yang engkau sembelih, tapi yang sampai kepadaKu adalah takwamu.” (QS. al-Hajj). Secara fisik kita menyembelih hewan, mengusir kebinatangan dalam diri yang berkurban. Lalu untuk siapa daging sembelihan itu?. Tak usah repot untuk mencicilnya sampai habis. Dia sudah menjadikan hal itu sebagai ujian sejauh mana implementasi ibadah sosial kita setelah merasa taat kepadaNya. “Antarkan ke rumahnya,” Kata Nabi saw. Artinya, Nabi tidak ingin hanya karena sebongkah daging sembelihan memperjelas status sosial seseorang.

Ketiga dimensi penting ibadah kurban inilah sejatinya menjadi niscaya dalam pelaksanaan. Tak perlu tutup mata, kalau banyak sekali pelaksanaan ibadah kurban kemudian merambah ke dimensi-dimensi lain, dan akhirnya merusak sendi ibadah kurban itu sendiri. Selamat Hari Raya Idul Adha 1434 H, 2013 M.

Komentar
Loading...