Tiga Kebiasaan dalam Bulan Suci Ramadhan yang Semestinya Dihindari

Bagi muslim, bulan ini adalah rahmat dan ampunan. Atas rahmat Allah yang Maha Kuasa (kayak UUD saja), 12 bulan dalam setahun, disediakan sebulan sebagai wadah untuk menghapus dosa-dosa 11 bulan sebelumnya. Tidak mudah. Ibarat tangga, semua ibadah juga memiliki step tersendiri dan kelak menentukan derajat manusia sebagai hamba.

Kaum muslimin dan muslimah menghadapi bulan suci Ramadhan dengan berbagai cara dan gaya. Disadari atau tidak, banyak perilaku kita sebenarnya menjadi kebiasaan tersendiri dalam bulan ampunan ini.

Sayangnya beberapa kebiasaan dalam bulan suci Ramadhan yang semestinya dihindari, sebelum menjadi efek buruk terhadap amalan kita, justru sedikit demi sedikit menjadi rutinitas hampir wajib.

Ada tiga kebiasaan dalam bulan suci Ramadhan yang akan saya utarakan dalam celoteh ini dan sejatinya kita hindari, yaitu:

Pertama: hari-hari pertama kebiasaan dalam bulan suci Ramadhan masjid sesak oleh mereka baik anak-anak, remaja dan orang tua, yang menunaikan shalat tarawih dan ibadah lain. Namun tidak pada pertengahan Ramadhan.

Pada pertengahan, bukan lagi masjid yang sesak, tapi mall dan tempat-tempat perbelanjaan. Untuk apa?, tentunya untuk persiapan di akhir Ramadhan nantinya. Kalau di pertengahan bulan Ramadhan masjid berangsur kosong, apatah lagi di akhir Ramadhan. Ibu-ibu mulai sibuk dengan persiapan penganan lebaran, remaja semakin intens ke mall, anak-anak beralih perhatian ke permainan Ramadhan tradisional.

Sebagai opini pencolek kesadaran, semestinya amalan-amalan pada bulan mulia ini dimaksimalkan dari awal sampai akhir. Bukankah Tuhan sudah membagi keutamaan Ramadhan dalam tiga bagian. 10 awal adalah hari rahmahNya, 10 pertengahan adalah ampunanNya, dan 1 terakhir adalah menghindari dari azab neraka?. Dikhawatirkan, jika kebiasaan ini tidak dihindari, maka rahmah Tuhan pada 10 awal bulan Ramadhan, akan tertutupi dengan hidangan kemaksiatan yang menunggu di tempat sesak tadi.

Opini Terkait
1 daripada 145

Kedua: ada kebiasaan dalam bulan suci Ramadhan terutama siang atau menjelang sore, yaitu menjadikan jam sebagai objek penglihatan paling indah. Akhirnya, azan maghrib kemudian menjadi idola dan hal yang paling ditunggu. Kebiasaan dalam bulan suci Ramadhan seperti ini, sebenarnya lumrah bagi anak-anak dan remaja. Tapi karena tidak mencoba menghindarinya sedini mungkin, akhirnya juga menjadi kebiasaan orang tua.

Seperti yang saya katakan pada bagian awal, semua ibadah ibarat tangga. Di dalamnya terdapat step penentu derajat manusia di hadapan Tuhannya. Kesan terpaksa tersirat dari perilaku “nungguin jam” ketika kita puasa, meski tidak mutlak.

Mari memahami bahwa perintah puasa dalam bulan suci Ramadhan adalah keuntungan bagi kita. Bukan hanya keuntungan pahala, tapi juga keuntungan kesehatan, sosial, dan keuntungan lainnya. Jika hal itu sudah berada dalam kesadaran kita, maka waktu akan terasa cepat, dan azan bukan hal yang paling ditunggu-tunggu lagi.

 

Ketiga: Kebiasaan dalam bulan suci Ramadhan yang semestinya kita hindari adalah pola balas dendam ketika berbuka puasa. Tak bisa dipungkiri, menahan lapar dan haus selama kurang lebih 12 jam membutuhkan kesabaran lebih, namun balas dendam terhadap hidangan buka puasa justru berdampak buruk terhadap metabolisme tebuh yang akhirnya berujung pada gangguan kesehatan.

Aturan Tuhan dalam berpuasa, bukanlah aturan “tanpa perhitungan.” Allah Maha Tahu atas segalanya termasuk kemampuan manusia untuk menahan lapar dan dahaga.

Sekolah Ramadhan
Ilustrasi Ramadhan

Tiga kebiasaan dalam bulan suci Ramadhan ini, diharapkan bisa dihindari menuju kesempurnaan ibadah kita selama bulan suci Ramadhan. Tidak semudah membalikan telapak tangan, sedikit demi sedikit, karena Allah akan menilai amalan kita dari sulitnya amalan itu dilakukan.

Loading...