Hati-Hati Membagikan Sesuatu di Media Sosial! Ikuti Langkah Berikut Ini

Jaring Saring dan Sharing

“Ambil positifnya, tak usah urus orang lain.”

“Kubagikan ji saya, bukan tonji saya yang tulis. Apa salahnya.”

Demikian segelintir alasan orang yang membagikan sesuatu, tapi tidak bertanggungjawab. Padahal, sebelum membagikan sesuatu di media sosial, perlu diperhatikan beberapa poin penting, dan bukan sekedar diakhiri dengan alasan fallacy seperti itu.

Betul ada positifnya, tapi kalau negatifnya jauh lebih besar? Semua hal ada nilai positifnya. Bahkan penjahat yang membunuh, merampok, memperko, dll, juga ada nilai positifnya. Tak mungkin dibiarkan bukan?

Betul hanya dibagikan. Tapi justru karena Anda bagikan, itu bisa menimbulkan dampak luar biasa, bisa berbahaya dan kadang tak terduga.

***

Terjadi perampokan di rumah seorang yang kaya raya. Perampoknya berhasil di tangkap dan setelah diinterogasi, ternyata dia mengetahui kalau targetnya adalah orang kaya, setelah melihat apa yang dia sharing/bagikan di media sosial.

Ya, orang kaya itu setiap saat membagikan sesuatu yang terkait rumahnya. Memperlihatkan barang antik mahal miliknya, disimpan di mana, dan seterusnya.

Tahu nggak, saat marak terjadi penculikan anak beberapa bulan lalu? Dari hasil investigasi, ternyata pelaku mengetahui jadwal main, tempat main, sama siapa, semua itu berasal dari apa yang disharing/dibagikan ibu sang anak.

Dua kejadian di atas adalah contoh kecil bahaya sharing/membagikan sesuatu di media sosial yang dampaknya menimpa orang yang membagikan.

Lalu bagaimana dampak terhadap orang yang membaca, melihat materi sharing itu?

Kemarin saya dalam perjalanan panjang, melalui 3 pasar. Kesemuanya ramai. Mengherankan! Pasar ramai di tengah pandemi corona, ramai saat anjuran pemerintah stay at home, ramai saat mestinya orang tidak berkerumun.

Usut demi usut, mereka ke pasar memburu barang kebutuhan pokok persiapan 3 hari tetap di rumah. Itu akibat selebaran dalam bentuk banner di media sosial yang menyarankan agar stay at home tiga hari saja. Padahal itu tidak benar!

***

Masih banyak contoh lain yang mengharuskan kita memasang kuda-kuda yang kuat dan tepat sebelum sharing atau sebelum membagikan sesuatu di media sosial.

Sebelum lanjut, penting diketahui, ada beberapa alasan seseorang sharing/membagikan sesuatu di media sosial

Pertama, sharing karena informasi itu penting

Merasa informasi itu penting; informasi gempa misalnya, pengumuman kenaikan harga, syarat BPJS, macam-macam, lalu merasa kalau hal itu penting diketahui oleh orang lain. Dalam kalkulasi sepintasnya, ada bahaya atau ada manfaat jika hal itu diketahui orang banyak.

Kedua sharing karena dakwah

Mengajak orang berbuat kebaikan dan menjauhi yang dilarang melalui media sosial. Konten itu lalu dibagikan.

Konten dakwah juga beragam, ada video, gambar, dan tulisan. Saya menekankan, sharing karena dakwah inilah yang paling membahayakan di dunia per-medsos-an hari ini… ngomong apa sih hehehe

Ketiga, sharing karena ingin dikenal

Untuk poin ini ada dua motif; ingin dikenal berkaitan dengan bisnis, dan ingin dikenal karena motivasi riya.

“Baju ini sepertinya pas di badanku” Kalimat yang di-share sambil menampilkan foto baju produk bisnisnya.

“Otewe bandara.” Sambil menyertakan gambar atau video perjalanan ke bandara (Fleksibel)

Baca: gengsi tak selamanya di bandara

Keempat, sharing karena motif mendapatkan keuntungan

Berbeda dengan bisnis secara umum, sharing model seperti ini biasanya memanfaatkan fitur yang ada di media sosial tempat konten itu dibagikan.

Misalnya, seorang yotuber yang minim pengunjung, membuat dan membagikan konten yang beda isi dan judul. Judulnya bombastis, isinya cuma slide biasa.

Opini Terkait
1 daripada 302

Atau pernah lihat konten seperti ini; “Tulis awal nama kamu, bagikan ke 5 group. Yang beruntung akan mendapat uang, HP, dst.”

Atau konten yang bunyinya, “Hanya muslim yang like dan membagikan postingan ini.” Kalimat dengan gambar pemanis anak yang membaca al-Quran misalnya.

Keduanya adalah contoh sharing untuk mendapatkan keuntungan belaka, yang banyak orang tidak menyadari.

Baca: framing; hoax tingkat tinggi

Kelima, sharing untuk pengalihan isu

Ini kadang tidak disadari orang. Membagikan sesuatu yang mengejutkan, bombastis, dalam rangka mengalihkan perhatian seseorang dari hal aktual yang sudah ada.

Misalnya, orang ribut karena kenaikan BBM, maka dibuatlah konten mengenai al-Quran dibakar, dll, lalu dibagikan. Dalam rangka pengalihan isu agar orang lupa akan kisruh kenaikan BBM

Keenam, sharing karena iseng dan ikut-ikutan

Tak ada motif khusus, tapi hanya karena melihat temannya membagikan, dia juga ikut. Atau kadang hanya iseng saja, bisa juga karena bosan melihat beranda Facebooknya sepi, dll.

Sebelum sharing, perhatikan hal ini

Dari keenam bentuk sharing tadi kesemuanya berpotensi menimbulkan bahaya baik kepada penerima maupun pengirim dalam hal ini orang yang membagikan.

Lebih lanjut, ketahuilah bahwa apa yang anda sharing/bagikan mencerminkan diri dan kualitas Anda sendiri.

Olehnya itu perlu tips tertentu yang wajib diketahui sebelum sharing sesuatu. Saya bagi menjadi tiga tahap; jaring, saring dan sharing.

Sebelum membagikan sesuatu jaring terlebih dahulu

Mendapat satu berita, jangan serta merta terpaku pada satu informasi yang diterima. Cobalah menggali, dan mencari informasi dari sumber berbeda, online dan offline.

Jaringlah mengenai, informasi apa, kapan, sumbernya dari mana, apa motif dan tujuannya. Kumpulkan sebanyak mungkin dan pastikan itu bukan hoax.

Baca: cara membedakan berita hoax dan tidak situs online

Contoh, berita tentang jumlah PDP Covid 19 di suatu daerah. Jangan serta merta dibagikan. Jaring informasi terkait, apa itu PDP, daerah mana, kapan, dan seterusnya.

Ada banyak konten yang sering dibagikan orang yang hoax nya luar biasa. Apalagi kalau dibungkus dengan bahasa agama.

Kisah penjaga makam Nabi…. Di akhir kalimat, “bagikan berita ini, kalau tidak hidup kamu akan sengsara beberapa hari ke depan…” enak aja lu!

Teknik jaring ini, paling tidak akan menambah wawasan kita mengenai satu informasi lebih dalam lagi.

Saring setelah jaring sebelum sharing

Ibarat kelapa kualitas terbaik, diparut, diperas keluar santannya. Terakhir santan itu disaring lagi, untuk mendapat hasil akhir terbaik

Saring di sini untuk menentukan, informasi yang sudah Anda dapatkan, benar atau tidak baik atau tidak dan bermanfaat atau tidak.

Berita benar tidak selamanya baik, berita baik tidak selamanya benar. Sedapat mungkin konten yang dibagikan adalah yang benar dan baik.

Baik yang paling utama adalah manfaat dari apa yang kita bagikan. Informasi biasanya benar, tapi kalau hanya membuat orang stres, was was, panik, buat apa?

Sharing dengan bismillah

Apa untungnya membagikan, apa manfaatnya, apa tujuannya? Kalau pertanyaan ini terjawab dan bisa dipertanggungjawabkan, maka bagikanlah.

Bagikan yang sudah Anda jaring, saring dengan memperhatikan target tempat Anda membagikan.

Misalnya info tentang hubungan suami is. Sudah dijaring, sudah disaring, tapi Anda bagikan ke group remaja usia anak SMP, itu juga tidak tepat.

Setelah semua klop, bagikan dengan basmalah… insya Allah berkah sakinah mawaddah wa rahma hehehe

Komentar
Loading...