Tragedi Karbala, Tragedi Kelam Kaum Muslimin

Tragedi Karbala

0 252

Malam 10 Muharram 61 H bertepatan dengan 10 Oktober 680 M, bersama 73 orang sahabat dan ahlul bait Rasulullah saw, diajak memohon kepada Allah berdoa, berdzikir mengucapkan Ya Allah ya Hayyu ya Qayyum. Ya Allah Engkaulah yang akan membuka segala kesusahan dan Engkau harapan saat kami berada dalam kesempitan. Ya Allah engkaulah pemilik segala kebaikan.

Lama berdzikir, sampai kemudian Sayyidina Husein tertidur. Dalam tidurnya beliau bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya, Rasulullah berkata kepadanya, “besok kamu akan berbuka bersamaku.”

Sayyidina Husein menangis tersedu sedu. Saudarinya, Zainab bertanya. Lalu Sayyidina Husein menceritakan mimpinya kepada saudarinya. “Mestinya aku yang menangis, karena aku tahu, kalau malam ini malam terakhir aku melihatmu saudaraku.”

Aku menangis karena memikirkan betapa banyak dari mereka besok, karena kekuasaan, karena jabatan, memilih jalan keliru menentang kebenaran. Mereka yang bersamku jelas di surga, dan mereka yang melawanku tempat nya di neraka.”

Imam Husein ra bin Ali Saudara Zainab binti Ali

Esok harinya, beliau mengatur 69 orang yang akan ikut bersamanya dalam peperangan tak seimbang melawan pasukan Ibnu Ziyad yang dipimpin Syammar ibnu Jausan, jumlahnya ribuan. Beliau menempatkan keluarganya di barisan paling depan, namun oleh para pendukungnya meminta agar kelaurga beliau di barisan belakang. 4 orang yang dilarang ikut berperang oleh Sayyidina Husein; Zainab binti Ali, Ali Zainal Abidin putra Sayyidina Husein yang waktu itu lagi sakit, Sukainah binti Husein, dan Ali bin Husein yang masih bayi.

Saat peperangan dimulai, Ali Akbar salah satu Putra Sayyidina Husein berkata kepada ayahandanya, “wahai ayahanda, biar aku yang akan mendampingimu.”

Majulah Ali Akbar bersama Sayyidina Husein. Bergerak ke kiri dan ke kanan. Jika musuh datang ke Sayyidina Husein, Ali Akbar melompat menghadang. Sebaliknya, jika musuh menerjang Ali Akbar, Sayyidina Husein lebih cepat menghadang. Hingga tiba-tiba kibasan pedang menyambar pundak kiri dan kanan. Pedangnya terjatuh, dan puluhan anak panah dan tombak menembus tubuhnya. Akhirnya Sayyidina Ali Akbar gugur sebagai syahid.

Posisi Ali Akbar digantikan Hamzah bin Hasan (dalam literatur biasa disebut al-Qashim). Dia bergerak melindungi Sayyidina Husein. Namun suatu waktu beliau lengah, dan saat membungkuk membetulkan tali pengikat sepatunya, sabetan pedang dengan kerasnya menjatuhkan kepala Hamzah. Sayyidina Husein memeluk jasad Hamzah dengan lidah bergetar berkata Ya Allah Ya Allah Ya Allah, Ya Allah saksikan ya Allah. Kemudian beliau berkata kepada Sayyidina Hamzah “ketahuilah ketahuilah tempat kita bertemu adalah di depan kakek.”

Meski dalam situasi perang, Sayyidina Husein senantiasa menghibur keluarganya dengan berkuda mengitari perkemahan sehingga ringkikan Kuda didengar oleh keluarganya. Putrinya yang bernama Sukainah binti Husein dari balik kemah melambaikan tangan, “hati-hati Abah.” Sayyidina Husein membalas lambaian itu dan kembali ke medan peperangan.

Saat memasuki waktu shalat dzuhur, pertempuran dihentikan. Tiba-tiba terdengar jeritan anak kecil. Sadar kalau suara itu berasal dari perkemahan, Sayyidina Husein segera menoleh dan melompat memacu kudanya mendekat ke perkemahan. Beliau sadar kalau anak yang menjerit itu adalah bayinya yang masih kecil. Zainab memberi tahu bahwa anak Sayyidina Husein kehausan dan tidak ditemukan air.

Sayyidina Husein berteriak, “ketahuilah, dalam medan laga, tidak boleh membunuh anak kecil tidak boleh membunuh wanita dan tidak boleh membunuh orang tua. Anak ini kehausan, tolong berikan kepadaku setetes Air.”

Namun terkutuk yang melakukan, bukan setetes air yang datang, tapi tiba-tiba tombak panjang meluncur kuat dan tepat bersarang di dada bayi tanpa dosa Ali Bin Husein. Sayyidina Husein mendengar jeritan terakhir anaknya. Darah bayinya muncrat mengenai wajah cucu Rasulullah saw. Selanjutnya bayi itu diam tidak bergerak lagi.

Saat matahari tepat di atas kepala, yang tersisa hanya Sayyidina Husein dan saudaranya Sayyidina Abbas. Sayyidina Abbas sejak awal memegang bendera, namun malang dia pun harus mendahului Sayyidina Husein dan terbunuh di tempat itu juga. Kini tinggal Sayyidina Husein dengan gagahnya berdiri di atas Kuda tidak punya teman lagi. Pedangnya dalam kepal tangan kanan. Tak ada musuh Allah yang berani mendekat. Musuh segan, hati kecil mereka mengatakan yang dia lakukan salah, namun kecintaan terhadap dunia membuat mereka lupa. Mereka tahu sadar, dihadapan mereka adalah cucu Rasulullah saw.

Syammar bin Jausan berteriak, “Ayo tebas kepalanya, jangan diam! Agar kita bawa ke hadapan Ibnu Ziyad.” Pasukan masih tak berani. Dalam pikiran mereka jangan saya, biar yang lain. Akhirnya yang mereka serang tebas, tusuk, sabet, kuda Sayyidina Hiusein.

“Kenapa yang kalian serang kuda. Kuda tidak bersalah.” Sayyidina Husein melompat dari kuda. Pasukan musuh masih segan, akhirnya yang meraka pukul adalah kaki dan tangan Sayyidina Husein. Kejadian seperti itu berlangsung lama, sampai Sayyidina Husein hanya bisa berjalan dengan lututnya.

Hingga ada seorang yang berani memegang kepala dan tangan cucu kesayangan Rasulullah saw, dan dengan bangganya Syammar ibnu Jautsan menurunkan pedangnya. Kepala putra Babul Ilmi, ahlul bayt Rasulullah saw, cucu kesayangannya terjatuh. Bumi pun menangis. Sayyidina Husein syahid.

***

Kisah di atas adalah bagian dari sejarah kelam umat Islam. Betapa tidak, tragedi Karbala adalah kisah pertempuran yang mengorbankan cucu Rasulullah saw, korban yang keji dan mengenaskan.

Sejarah membuktikan bahwa persoalan kepemimpinan membuat umat islam bercerai berai dan belum bisa berdamai. Jangankan kita, kalangan sahabat, dan tabiin saja sudah memulai perbedaan itu. Utsman bin Affan terbunuh, Ali bin Abi Thalib terbunuh, bahkan perseteruan sudah dimulai di Tsaqifah bani Saidah saat Rasulullah saw belum dimakamkan.

Pengganti Ali bin Abi Thalib adalah Hasan atau Husein bin Ali, namun keduanya menolak kecuali kalau itu hasil musyawarah. Muawiyah mengambil kesempatan itu dan diteruskan oleh Zaid. Sejarah mencatat rekam jejak keduanya. Banyak hal yang mereka lakukan justeru tidak sesuai dengan syariah.

Beribu catatan mengenai sejarah perpolitikan dan kepemimpinan umat Islam. Banyak yang menyedihkan dan sekaligus membingungkan. Sahabat terbunuh, pembunuhnya orang Islam juga. Dan yang paling tragis adalah tragedi Karbala. Itulah mengapa sejatinya tragedi Karbala adalah kisah pilu umat Islam tanpa terkecuali.

Siapa Hasan dan Husein? Keduanya bukan sekedar ahlul bait yang dalam surah al-Ahzab mereka disucikan sesuci sucinya. Tapi juga cucu kesayangan Rasulullah saw. Keduanya adalah sosok yang membuat Rasulullah saw berlama lama saat rukuk dan sujud karena beliau berada di pundaknya, Hasan dibunuh diracun, dan Husein dipenggal tanpa perikemanusiaan, yang bahkan dilakukan oleh pejabat, pasukan pemeritahan Zaid waktu itu

Umat islam yang mengerti tragedi Karbala, maka 10 Muharram atau hari asyura adalah hari keramat baginya. Itulah sebabnya, salah satu alasan oleh sebagian orang, mereka tidak ingin melakukan kegiatan-kegiatan besar pada bulan ini, karena di dalamnya ada tanggal bersejarah. 10 Muharram, hari Asyura, hari kesyahidan Sayyidina Husein.

Banyak tradisi muncul bias dari kesedihan atas kesyahidan Sayyidina Husein. Hari 10 Asyura, biasanya ada yang membuat bubur warna merah putih. Seakan ingin mengatakan, bahwa hari ini kami mengenang peristiwa itu. Kami berkumpul dengan memakan sesuatu yang berwarna merah dan putih, sebagai simbol darah dan tulang. Darah dan tulang Sayyidina Husein.

*Kalau membaca tulisan ini lalu menuduh saya Syiah, nggak apa-apa, asal kalian bukan dari kelompok Muawiyah, Zaid, Ibnu Ziad, atau Syammar

Komentar
Loading...