Tragedi Kemanusiaan di Wamena; Kita di Mana?

Tragedi Kemanusiaan di Wamena

Hiruk pikuk protes terhadap rancangan KUHP menyita waktu dan perhatian kita. Di sana ada yang menuduh, ini terkait dengan pelantikan segala macam. Yang merasa tertuduh berusaha membela diri. Tidak! Ini murni gerakan membela rakyat. Ini bukan gerakan radikal. Balas bersambut, ribut. Dan saya hanya mengharap kita masih ingin Indonesia yang utuh.

24 jam dalam sehari terlalu panjang untuk sekedar menoleh dan melihat tragedi kemanusiaan di Wamena? Sebuah kota di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua yang masih bagian dari Indonesia. Puluhan orang meninggal dibunuh secara tragis. Ada yang dibakar hidup-hidup, dikampak, ada juga meninggal dengan tetes darah penghabisan.

Kata “pendatang” menjadi ancaman persatuan se-bangsa dan se-tanah air di bumi “Babi Jinak” Wamena. Enam ribuan jiwa mengungsi ke lebih 10 titik tempat aman. Mereka kebetulan berasal dari suku Bugis dan Minang yang kini dianggap pendatang. Pendatang yang dipantaskan dibantai oleh pribumi.

Tagar #Bugis berduka menjadi trending di Twitter. Gubernur Sumbar meluangkan waktu untuk melihat langsung kondisi masyaraktnya di sana. Kita? Masih layakkah kita full fokus ke persoalan unggas dan ramainya denda 12 juta. Di mana nurani kita sebagai manusia?

Rancangan KUHP bukan tidak penting karena terkait hidup kita di negara hukum, terkait nasib anak cucu kita di masa yang akan datang. Namun, kita diuji untuk menyisihkan perhatian kita terhadap pelanggaran berat kemanusiaan.

Terkait
1 daripada 68
Sumber gambar: topsatu.com

Saya mencari suara para aktivis HAM. Ratusan nyawa melayang tak berharga, tapi sepertinya disambut dengan senyap. Teori hak asasi manusia apa lagi yang melebihi pembahasan nyawa manusia.

Kita juga tak berhenti berharap, tolong siapa saja yang memiliki kekuasaan. Kekuasaan tidak ada artinya jika disandingkan dengan kemanusiaan. Wahai pemegang kendali. Arahkan negara ini dengan benar agar bisa melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Bagi saudaraku yang sering berkata, “apa yang telah kamu lakukan untuk bangsa ini?” ini adalah momen, kesempatan yang tepat. Lakukan sesuatu. Tragedi Wamena adalah ancaman keutuhan bangsa, karena jika dibiarkan dampaknya bisa meluas. Daerah lain bisa melakukan hal yang sama. Passwordnya mereka sudah pelajari, pendatang dan pribumi. Lalu pecahlah perang saudara. Kita berlindung dari Kuasa Tuhan dan tidak menginginkan hal itu!

Ada banyak yang bisa kita lakukan; menulis keprihatinan, mengucapkan belasungkawa, membantu dengan tenaga dan doa. Semampu dan sebisa kita.

Kalimat cantik dari seorang blogger, Yusran Darmawan, dalam tulisan singkatnya; Di Wamena, Papua, nurani kemanusiaan kita sedang diketuk. Pada air mata mereka yang mengungsi itu, kita menyaksikan begitu banyak beban yang dipikul tanah air kita: INDONESIA.

Loading...