Tuhan Tak Pernah Offline

0 10

Sebelum lanjut lebih jauh, baiknya disatukan persepsi tentang Offline. Ntar dianggap penistaan lagi sperti Rocky Gerung. Gaduh….

Offline dimaknai terputusnya hubungan karena jarak, keluar dari sistem atau perbedaan sehingga memutuskan interaksi. Tuhan Offline dengan Manusia, artinya ‘terputusnya’ hubungan atau interaksi karena sebab tadi. Sulit menjelaskan. Tapi, celoteh guru akan mencobanya.

Seorang siswa tidak lulus di sekolah sebelah. Dia tidak sedih karena sadar selama ini tak mengikuti sistem sebagai syarat lulus. Teman-temanya yang lain gembira, dia pun turut gembira. Kesadaran akan kualiatas dirinya yang tidak menentukan kelulusannya sendiri. Tawakkalnya kurang oleh ikhtiarnya. Ikhlasnya hadir setelah akibat menimpanya.

Lain lagi dengan guru di pelosok teman saya. Masih lajang dan takut menikah. Alasanya klise, takut membiayai saat masih susah membiayai dirinya sendiri. Dia bersedia menikah dengan wanita PNS pula. “Biar gajinya dua kali lipat,” katanya. Jelas tergambar, dia belum merasa akibat belum menimpanya, masa depan menakutkan baginya ada dalam perkiraannya. Kesadaran belum hadir dalam dirinya. Ikhtiarnya layu oleh kurangnya tawakkalnya.

Banyak riwayat sejenis dalam kehidupan saya, anda dan kita, intisarinya seperti fakta di atas. Pertarungan hidup untuk kepuasan fisik dan melupakan rohani ujung penyebabnya. Paradigma dari epistemologi yang bisa saja dilupakan atau tidak tahu, melahirkan pengagungan terhadap kekuatan rasional dan menghukumi nuraninya. Menghitung dengan rumus buatan dan mengabaikan rumus dan rencana sang Pencipta.

“Kulla yaumin Huwa fi Sya’n.” Setiap hari Dia (Allah) ‘Sibuk’. Demikian firmanNya dalam surah al-Rahman terangkai dengan 31 pertanyaan nikmat yang manusia dustakan. “Dia tidak ngantuk dan tidak tidur.” Konteks yang sama dalam surah al-Baqarah. Intinya, segala yang diciptakaNya, dalam pantauan sistemnya. Manusia, alam semesta, malaikat dll, tak bisa keluar dari sistemnya. Dia ‘Muhith’ (meliputi) segala sesuatu. Tak terbatas dari semua yang terbatas.

Tuhan tak pernah offline

Manusia sebagai satu-satunya ciptaan yang mendapat legitimasi Tuhan sebagai penggantiNya di dunia, hadir keluar dari alam rahim dengan modal pilihan, alatnya akal. Potensi akal inilah disamarkan dengan bahasa rasional. Bagi saya, berbeda. Akal bagian ruh, rasional adalah kinerja dalam prosesi. Rasionalitas adalah wilayah pilihan, hampir keluar dari sistem Tuhan.

Tak perlu keluar dari sistemNya. Karena segala yang ada tak bisa keluar dari predikat ciptaanNya. Tuhan Maha Baik, mustahil rencana dan sistemNya tidak baik. Baik dan tidak baik, adalah penilaian dari perkiraan rasionalitas. Itu adalah domain khalifah. Seorang manusia yang konsisten dalam rencana dan sistem Tuhan, akan dikendalikan olehNya melalui Dirinya. Karena Tuhan tak pernah Offline.

Komentar
Loading...