Ujian Terbuka buat Santri Tahfizh al-Quran

Patut disyukuri, menjamurnya lembaga tahfizh al-Quran adalah bukti kecintaan masyarakat dan pemerintah terhadap keterjagaan al-Quran melalui penghapalan. Banyak lembaga tahfizh al-Quran berdiri dengan kedermawanan tokoh, swadaya masyarakat, dan tak sedikit atas bantuan murni pemerintah. Mereka meyakini, akhlak yang baik adalah akhlak al-Quran, dan itu harus dimulai dengan membiasakan anak membaca, menghapal, dan kelak mengamalkannya.

Harapan itu tentu kita harus capai, kita harus mengawalnya, dan menjaganya. Jangan sampai, animo pemertintah dan masyarakat yang tinggi atas pendirian lembaga tahfizh al-Quran tidak berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh. Perlu pembuktian berkala dan terbuka dalam bentuk ujian terbuka tahfizh al-Quran.

Ujian terbuka tahfizh al-Quran, yaitu menguji hapalan para santri secara berkala dan terbuka, tanpa ada kongkalikong di dalamnya. Ini menarik, karena setidaknya akan mengurangi manipulasi santri terhadap apa yang mereka lakukan selama menghapal. Manipulasi yang saya maksud adalah klaim bisa padahal belum bisa. Memang ada? Semoga tidak!

Biasanya dalam satu pondok tahfizh al-Quran diasuh oleh jumlah muqri1Ustadz yang bertugas mendengar hapalan santri. Jadi santri menghadapkan, menyetorkan hapalannya pada masa tertentu pada seorang ustadz yang ditugaskan khusus. Muqri sejatinya juga seorang hafizh al-Quran yang tidak seimbang dengan jumlah santri. Seorang muqri mendengarkan atau menghadapi 10 sampai 20 santri dalam waktu tertentu, sehingga waktu untuk mengevaluasi sangat sedikit. Padahal, seiring waktu terjadi reduksi ingatan, sehingga hapalan santri tidak lagi sebagus saat mereka menyetorkan di hadapan muqri.

Makanya, ujian hapalan santri dalam satu pondok biasanya dilakukan secara berkala, misalnya santri yang sudah mencapai 10 juz hapalan, diuji dulu sebelum melanjutkan ke juz berikutnya. Apakah itu sudah cukup? Bagi saya belum. Pertanggungjawaban lembaga tahfizh al-Quran sejatinya kepada masyarakat. Kualitas hapalan semestinya diuji di depan publik dalam bentuk ujian terbuka.

Opini Terkait
1 daripada 312

Ujian terbuka selain menjadi ujian formal bagi santri, setidaknya juga bermanfaat sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada penyandang lembaga tahfizh al-Quran. Hal ini mengantisipasi pengakuan sepihak lembaga tahfizh al-Quran atas keberhasilan yang mereka capai.

Bentuk ujian tahfizh al-Quran bervariasi, umumnya mereka dibacakan satu ayat al-Quran kemudian santri yang diuji melanjutkan ayat tersebut sampai satu atau dua halaman. Dalam ujian tingkat lanjut, selain kemampuan melanjutkan ayat, juga kemampuan menyebutkan posisi ayat, bagian tengah halaman, bawah atau atas. Sampai kemampuan menyebut surah dan ayat berapa ayat tersebut berada.

Tahfizh al-Quran

Saya percaya para ustadz yang dengan ikhlas membina dalam suatu pondok tahfizh al-Quran. Tapi dalam kondisi tertentu mereka juga memiliki pertimbangan supaya santri yang mereka bina harus dianggap bisa, dan itu buruk karena memancing manipulasi saat ujian. Misalnya, soal yang diberikan dibacakan oleh gurunya sendiri, atau kisi-kisi sudah diberikan sebelumnya seperti debat capres.

Ujian terbuka bagi tahfizh al-Quran mirip arena musabaqah tilawatil quran, dimana peserta diuji hapalanya untuk menentukan siapa yang terbaik. Penguji tentu bukan muqri peserta lomba. Kalau ujian tahfizh al-Quran, penguji boleh terbuka oleh masyarakat yang hadir. Bedanya, dalam ujian terbuka ini hanya untuk menentukan santri tersebut sudah layak atau belum, bukan untuk meraih gelar juara.

Akhirnya, saya ingin katakan bahwa kepercayaan masyarakat, kepercayaan pemerintah yang membangun lembaga tahfizh al-Quran jangan jadi ajang pemanfaatan dengan label mencetak para hafizh al-Quran. Ini berbahaya dan bisa mengarah ke proyek berbungkus lembaga tahfizh. Harus dibuktikan di depan publik secara terbuka. Dengan cara itu diharapkan hapalan santri juga semakin baik karena mereka tampilkan di arena yang mendebarkan.

Loading...