Ulama Turun Tahta

0 28

Dalam al-Quran syarat Ulama adalah dia seorang hamba yang takut kepadaNya dan berilmu.1Surah Fathir ayat 68 Semua manusia adalah hamba, tapi hamba yang menghamba kepada penciptaNya tidak banyak. Berilmu, atau menguasai ilmu agama mungkin banyak, tapi berilmu sekaligus takut kepadaNya, itu yang jarang.

Hamba yang menghamba, berilmu, sekaligus takut kepadaNya adalah satu kesatuan yang menjadi syarat seorang ulama. Itulah sebabnya, pengetahuan yang lahir dari lisan seorang ulama selalu bisa menjadi solusi memuaskan melebihi solusi pengetahuan dengan standar ilmiah apapun.

Seorang ulama generasi Tabi’in, Sufyan al-Tsauri saat menuntut ilmu selalu berpegang pada nasehat ibunya yang kebetulan mencari nafkah sebagai seorang penenun.

“Nak, jika engkau menulis 10 huruf, jangan lanjutkan tulisanmu kecuali 10 huruf itu bisa membuatmu takut kepada Allah.”

Tersirat pesan penghambaan, ilmu dan rasa takut kepada Allah dari pesan sang ibu. Berbekal nasehat itulah, Sufyan menjadi ulama hadis kesohor pada masanya.

Ulama bukanlah gelar yang bisa dicapai dengan durasi waktu tertentu seperti gelar sarjana dari kampus, tapi ulama adalah sebutan tanpa paksaan terhadap sosok yang dianggap berilmu. Dengan ilmunya, semua masalah terjawab, jawabannya pas karena keikhlasan. Keikhlasan hadir karena rasa takutnya kepada Allah.

Ulama pewaris Nabi saw. Sosok ulama membuat kita merasa kehilangan jika dia jauh, dan takut berpisah jika bersamanya. Lawan akan segan, dan kawan makin sayang. Itulah aura ulama persis yang Mulia Rasulullah saw sebagai sosok yang diwarisinya.

Ulama bukan jabatan. Dengan demikian, istilah tahta dalam judul artikel ini adalah kondisi di mana sosok yang selama ini dianggap ulama, namun akhirnya gelar itu menjadi hambar. Sebutan ulama hanyalah sisa yang terkikis seakan makin tipis dari makna dalam ulama sebelumnya.

Ilustrasi Uama

Sikap terhadap Ulama

Perjalanan hidup manusia sebagai hamba merupakan bingkai ujian yang tak bisa dihindari. Ujian bagi manusia yang juga seorang hamba adalah keniscayaan. Semakin tinggi derajat penghambaan seseorang, maka semakin tinggi ujian yang akan dihadapi.

Sosok yang dijadikan teladan dan sekaligus dianggap sebagai ulama pun akan melalui serangkaian ujian. Ujian itu pasti bisa dilalui, seperti halnya ujian yang dihadapi manusia non ulama. Bisa jadi, pada fase ujian itulah, oleh manusia yang bukan ulama akan merasa hambar dengan sebutan ulama pada sosok yang sesungguhnya ulama.

Masalah? Bagi ulama itu bukan masalah. Karena sebutan dan gelar ulama bagi seorang ulama bukanlah sesuatu yang diidamkannya. Mau dianggap ulama, silahkan. Tidak dianggap juga bukan masalah.

Ulama turun tahta menjamur seiring dengan perilaku kasat mata sosok-sosok yang dianggap ulama yang berbeda dengan ekspektasi kebanyakan. Ditambah lagi, kebebasan men just dari mereka yang kurang mengerti akan ujian seorang hamba. “Dia bukan ulama” menjadi kalimat tuduhan yang mudah dan murah dari seseorang dengan kedangkalan ilmu yang dimiliki.

Bagi yang memahami derajat seorang ulama, maka dia tak akan mencaci, menghina, merendahkan dengan klaim sepihak, meski ulama tersebut dianggap turun tahta, bahkan dianggap bukan ulama lagi.

Belajarlah dari kisah ulama bernama Juraij, seorang ulama yang didoakan jelek oleh ibunya sendiri.

Suatu ketika, Juraij sholat dan ibunya datang sembari mengucapkan salam. Juraij memilih meneruskan sholatnya, sampai ibundanya marah lalu mendoakan bahwa Juraij tak akan meninggal sebelum bertemu dengan pelacur.

Masyarakat yang banyak membenci Juraij waktu itu ingin menjebak Juraij dengan wanita namun tak berhasil. Wanita pelacur yang akan menjebak itu berhubungan dengan penggembala sampai kemudian hamil. Wanita itu mengaku yang menghamilinya adalah Juraij.

Singkat kata, lahirlah bayi dari wanita hasil hubungan gelap dengan penggembala, dan masyarakat pembenci mendatangi dan ingin menghukum Juraij. Juraij berkata, “tanya bayi itu, siapa ayahnya.” Dengan kuasa Allah, bayi itu berbicara dan menjawab bahwa ayahnya adalah penggembala bukan Juraij.

Pesan mendalam dari kisah Juraij ini adalah, seorang ulama dengan kedekatan dan rasa takutnya kepada sang Khalik, akan diselamatkan oleh Allah berupa skenario yang tidak terduga. Doa ibunya makbul, dan Juraij yang seorang Ulama selamat.

Anda mungkin menyangka seorang ulama turun tahta, tapi sebenarnya prasangka kita yang naik sehasta. Anda boleh tidak memihak pada ulama, tapi jangan masukan dirimu kepada golongan orang durhaka.

Komentar
Loading...