Universitas As’adiyah; Inovasi atau Dualisme?

  • Bagikan
Wisuda STAI As'adiyah. Poto: asadiyahpusat.org

Pondok pesantren As’adiyah didirikan tahun 1928. Seperti rata-rata pondok pesantren lain di Indonesia, As’adiyah mengalami pasang surut. Pondok pesantren tertua di Indonesia timur ini bersinar sekitar tahun 70-an dan 80-an, tapi beda dengan sekarang.

Sebagai alumni dari pondok pesantren ini, saya merasakan kedigdayaan pondok pesantren ini sedikit demi sedikit terjun bebas, bila dilihat dari perkembangan sarana dan jumlah siswanya.

“Jualan” terlaris dari pondok pesantren yang didirikan AG al-Allamah Haji Muhammad As’ad ini adalah Barakka (keberkahan). Banyak alumni merasakan Barakka ini. Tak heran, jika meski puluhan tahun meninggalkan pondok secara akademis, namun hati alumni dan perasaannya lekat dengan pengabdian tak surut untuk pondok. Bentuk fanatisme positif yang perlu dikembangkan.

Banyak organisasi di bawah naungan Pengurus Besar As’adiyah berdiri sebagai jawaban dan wadah yang mengakomodir rasa cinta alumni ini. Sangat efektif. Namun bukan berarti tanpa problema. Pergeseran dan persaingan hidup “sesuap nasi dan sebongkah berlian” memiliki andil dan membentuk karakter baru seorang ketika berkiprah dalam sebuah organisasi. Kepentingan individu dan pragmatis, dan mungkin kepentingan politis.

Adalah IKAKAS (Ikatan Alumni As’adiyah), sebuah organisasi murni di bawah naungan pondok pesantren As’adiyah beranggotakan alumni As’adiyah, sejak jaman awal sampai sekarang. Pengurusnya tentu alumni dan orang-orang yang dianggap kredibel. Rata-rata memiliki pendidikan jenjang starata I.

Acaranya kerap beda dengan gaya khas pondok pesantren yang sederhana. Organisasi ini juga diakui memiliki pengaruh paling kuat di antara organisasi lain di bawah naungan Pengurus Besar As’adiyah. Wajar, dengan motor penggerak orang dengan nama ternama, link besar terbuka lebar, mudah untuk menjawab kebutuhan organisasi.

Menjadi bahan diskusi alot ketika Sekretaris Jenderal Ikakas Pusat, merilis pernyataan akan membangun gedung untuk Universitas As’adiyah. Peletakan batu pertama Gedung tersebut telah dimulai dan diklaim akan rampung tahun 2014.

Secara kasat mata, pembangunan universitas ini bisa dikatakan sebagai sebuah inovasi besar selama hampir satu abad keberadaan pondok pesantren As’adiyah. Namun, Ada beberapa substansi bahan diskusi sehingga hal ini laik untuk diperbincangkan.

Pertama: adakah kewenangan sebuah organisasi di bawah naungan sebuah yayasan mendirikan Universitas?

Kedua: apa motif di balik pendirian Universitas, padahal pondok pesantren As’adiyah adalah pondok pesantren komplit yang menyediakan lembaga pendidikan dari TK sampai Perguruan Tinggi (STAI As’adiyah)?

Ketiga: apa alasan mencoba mengambil kebijakan besar di saat STAI As’adiyah dalam kondisi memprihatinkan?.

Untuk menjawab pertanyaan pertama, kita lihat Kepmen Pendidikan Nasional RI Nomor 234/U/2000 Tentang Pedoman Pendirian Perguruan Tinggi. Pasal 1 ayat 5 diakatakan: “Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta yang selanjutnya disingkat BPPTS adalah badan hukum/yayasan yang bersifat nir-laba yang menyelenggarakan perguruan tinggi swasta (PTS).”

Pasal 15 ayat satu dan sub poinnya jelas, “Persyaratan pendirian PTS oleh BP-PTS selain tercantum dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 12 meliputi pula persyaratan; a) BP-PTS tercatat pada Pengadilan Negeri setempat; b) Ada jaminan tersedianya dana yang cukup untuk; 1) penyelenggaraan program pendidikan selama empat tahun bagi akademi dan politeknik; 2) Penyelenggaraan program pendidikan selama enam tahun bagi sekolah tinggi, institut dan universitas.” Artinya BP-PTS pastinya bukan PB As’adiyah.

Kemudian dalam Pasal 2 ayat 6 dikatakan: “Universitas terdiri atas sepuluh program studi atau lebih yang menyelenggarakan Program S1 dan/atau Program Diploma dan mewakili tiga kelompok bidang ilmu pengetahuan alam dan dua kelompok bidang ilmu pengetahuan sosial atau lebih dan yang memenuhi syarat dapat menyelenggarakan Program S2 dan Program S3.” Pasal ini ditulis setelah penjelasan prosedur pendirian Perguruan Tinggi (PT). Artinya sebelum mendirikan universitas, maka syarat pendirian PT yang harus diprioritaskan.

Berkaca dari sejarah kemunduran pondok pesantren As’adiyah, bentuk pemindahan skala besar Madrasah Aliyah ke pedalaman Macanang, menjadi momok dan dianggap penyebab utama berkurangnya santri pondok pesantren hingga kini. Pemindahan itu sebenarnya menyimpan masa depan cerah andai terlaksana sesuai dengan program. Namun, apa daya, tenaga, waktu dan dana terkuras habis, dan nasi telah menjadi bubur.

Diakui, pembangunan universitas As’adiyah memang tidak bisa disamakan dengan pemindahan Madrasah Aliyah 1998-1999 silam, tapi di sisi energi, dampaknya sama. Tenaga, waktu, dan dana akan terkuras, bersamaan dengan keprihatinan kondisi STAI As’adiyah yang marak dalam sorotan.

Wisuda STAI As’adiyah. Poto: asadiyahpusat.org

Lalu apa motif pendirian Universitas As’adiyah yang mengagetkan ini? Sampai sekarang tak ada jawaban rasional. Namun, dengan argumen Kepmen Pendidikan Nasional RI Nomor 234/U/2000, maka saya hampir bisa mengatakan kalau pendirian Universitas As’adiyah oleh Ikakas sebagai organisasi di bawah naungan PB As’adiyah adalah “bercanda,” karena bisa menggiring ke arah dualisme kepemimpinan pondok.

Apapun itu, eloknya rasa kecintaan alumni tetap terpupuk dengan baik. Diskusi mencari langkah dan poin strategis berdasarkan ukhuwwah harus tetap terjaga. Lebih elok lagi jika rasa cinta dan fanatisme positif alumni diarahkan lebih baik lagi.

“Wa Ta’awanu ala al-Birri wa at-Taqwa. Wala ta’awanu ala al-Istmi wa al-Udwan.”

  • Bagikan