Gelar Ustad, dari Professor sampai Ustad Google

  • Bagikan
Pengertian-Ustad

Ustad, kadang juga dieja dengan Ustadz, dan Ustaz. Bahkan di kampung saya, kata Ustad lebih mudah diucapkan dengan Usta’. “Anui Usta’.”

Meski kadang hanya beda penyebutan, antara Ustad dan Ustadz, itu beda maknanya. Kata Ustad (tanpa huruf ‘z’), awalnya adalah panggilan, label yang akrab dipakai di India, Pakistan dan Bangladesh. Maknanya sedikit berbeda. Sama-sama memiliki keahlian, namun Ustad dimaksudkan hanya keahlian bidang seni saja, baik sastra maupun musik. Sebut saja Ustad Salamat Ali Khan, Ustad Nusrat Fateh Ali Khan, Ustad Talib Hussain Pakhawaji, dll.

Seiring waktu, baik penulisan dan penyebutan, Ustad lebih dan efisien baik dari sisi penulisan maupun penyebutan.

Dari sisi bahasa, Ustad berasal dari bahasa Persia klasik dengan tulisan “Istad”, bermakna pengajar, tuan, atau orang tua. Selanjutnya, Ustad adalah panggilan, label sebagai bentuk penghormatan yang biasa digunakan di sebagian Negara Arab kepada orang ahli, akademisi yang memiliki keahlian khusus di bidang tertentu.

Di mesir, kata Ustad bahkan hanya berlaku kepada seorang professor, karena professor dianggap sebagai orang yang memiliki keahlian tertentu. Itulah sebabnya, di banyak perguruan Islam, professor masih sering dipanggil Ustad.

Gelar Ustad sangat kental dengan orang yang ahli agama. Hal ini karena Ustad adalah gelar yang diberikan pertama kali kepada al-Ikhsyidi al-Isfirayini, seorang pakar khusus dalam ilmu fikih di Mesir pada masanya. Dari situlah kemudian orang yang paham ilmu agama dipanggil Ustad.

Di beberapa negara Melayu, makna gelar Ustad kemudian berkembang bukan hanya diberikan kepada orang yang mengerti ilmu agama saja, tapi orang yang berkecimpung dalam bidang agama pun akan mudah mendapat gelar ini. Lulus pesantren, keluar akan dipanggil Ustad. Rajin ke masjid, akan dipanggil Ustad. Bahkan yang sering menggunakan identitas agama, peci, sarung, baju piyama, akan digelari Ustad.

Bayangkan, dari gelar professor, ahli fikih, akhirnya gelar Ustad turun harga. Saya melihat hal ini disebabkan karena dua hal;

Pertama: kebiasaan sebagian masyarakat over general dalam berpikir, adalah penyebab utamanya. Ustad adalah orang yang mengerti ilmu agama terutama ilmu fikih. Saat ada masalah yang butuh jawaban, ustad lah yang akan turun tangan.

Lalu apa beda ulama dengan Ustad? Ulama lebih tinggi, karena syarat “yakhsyallaha”. Ulama seorang mujtahid. Ulama juga menguasai semua ilmu agama tidak terbatas fikih yang orientasinya fatwa.

Untuk mengembalikan marwah dan sakral Ustad, masyarakat harus menempatkan Ustad yang sebenarnya. Kalau tidak, gelar Ustad akan mudah direduksi, disusupi, disabotase, oleh orang yang hanya berpenampilan Ustad tapi tidak berperilaku layaknya Ustad.

Kedua: kesalahpahaman Ustad dalam makna sebenarnya, dan Ustad yang dibentuk oleh opini (media).

Modal fisik, pandai bicara, bisa melucu, bisa baca ayat sedikit, dengan mudah orang diberi gelar ustad. Dan media memiliki peran besar untuk itu. Tak heran muncul istilah, “Ustad google” yaitu Ustad yang ngaji di internet tapi punya modal fisik, pandai bicara, bisa melucu, bisa baca ayat sedikit, lalu viral. Maka jadilah dia Ustad!

Ustad, selain gelar juga menjadi pekerjaan menjanjikan. Selain keuntungan materi, lakon Ustad bisa memobilisasi massa yang ril. Harus diakui, Negara mayoritas Islam, masyarakatnya akan selalu haus dengan siraman rohani dengan penampilan kekinian.

Pengertian-UstadSaya kaget ketika mencoba memanggil ceramah seorang “Ustad” teman se-pondok dulu yang kini sudah di-Ustad-kan oleh media. Menurut managernya, saya harus menyiapkan uang puluhan juta untuk itu. Ustad kini menjadi skat besar antara saya dan dia. Jauh berbeda dengan Ustad beneran, guru kami, yang tak perlu repot untuk itu.

Makna Ustad yang keliru pastinya akan menjadi bom waktu. Harapan masyarakat akan mendapat sesuatu dari apa yang disampaikan oleh “Ustad”, suatu saat tidak akan kesampaian. Sampai kapan seorang yang bukan Ustad bisa bertahan atau mempertahankan diri tetap menjadi Ustad sebenarnya? Tak ada jaminan, dan waktu akan menjawab.

Banyak kasus oknum yang akhirnya merusak citra Ustad. Dan tulisan sederhana ini semoga bisa mengembalikan kesalahpahaman publik akan posisi Ustad.

  • Bagikan