Video ML Guru SMA; Moral, Etika, dan Hukum

Suatu sore, disudut jalan beberapa pemuda berkumpul. Saya mendekat karena penasaran, dan Masya Allah, mereka nonton bareng menyaksikan video kebejatan asusila guru dengan siswinya. Hari yang sama saya mendapatkan info, bahwa kepolisian sementara membawa korban. Telat, kataku dalam hati. Pasalnya, penulis sendiri sudah melihat video tersebut 4 hari yang lalu.

Memang, dua hari terakhir, kampungku ramai. Ramai dengan cerita kehebohan seorang guru yang bertindak asusila dengan siswanya. Ramai ketika serombongan masyarakat memotong tiang-tiang rumah pelaku asusila tersebut, membawa ke lapangan dan membakarnya. Kini pelaku, katanya sudah menyerahkan diri ke pihak yang berwajib.

Mencermati kejadian “ramai” itu, penulis akan melihat dari sisi moral, etika dan hukum.

Berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal mos, dan bentuk jamaknya, mores masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Itulah kata moral. Banyak yang mengatakan, moral sama dengan etika, secara etimologis memang sama karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan,adat.
Dengan demikian, rumusan arti kata moral adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Atau bila kita mengatakan bahwa guru pelaku asusila itu bermoral bejat, artinya guru tersebut tidak berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang baik.
Kata lain yang sering kita dengar adalah moralitas juga berasal dari bahasa Latin, moralis. Kata ini mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral, hanya ada nada lebih abstrak.
Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk. Berbicara tentang “moralitas suatu perbuatan”, artinya segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya perbuatan tersebut.

Kasus asusila guru SMA dengan siswi terbaiknya secara moral dan moralitas jelas tergolong bejat untuk ukuran bangsa Indonesia. Dikatakan tidak bermoral karena yang bersangkutan melakukan aksi yang tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat sekitar. Dikatakan tidak memiliki nilai moralitas, karena fakta gerakan masyarakat yang membakar rumah pelaku adalah reaksi awal dari penilaian perilaku tidak buruk.

Jika kejadian asusila ini terjadi di masyarakat suatu bangsa penganut seks bebas, maka bisa saja dikatakan hal itu, sebagai perilaku bermoral. Namun dari segi moralitas, akan selalu berdialektika, antar apakah hal itu baik atau buruk. Penulis ingin mengatakan bahwa penilaian atas kejadian dengan landasan moral, akan selalu tidak sama.

Ethos bentuk tunggalnya dan ta etha, dalam bentuk jamak, adalah bahasa Latin, yang disadur ke dalam bahasa Indonesia menjadi etika. Istilah Etika oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).

Etika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru mempunyai arti, ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Nilai etik dari video kasus asusila guru SMA Belawa tersebut dapat dilihat dari posisi guru yang semestinya memberikan pengajaran dan contoh yang baik kepada siswa sebagai anaknya, dan penyebaran perilaku yang tidak disetujui masyarakat dalam bentuk video.

Video yang berdurasi 15 dan 18 menit itu, memang menggambarkan perilaku yang tidak etis (tidak beretika). “Siapa pun” akan menilai salah jika seorang guru, sudah menikah, menjebak siswinya dengan menahan nilainya, men-shoot dalam bentuk video dan menyebarkannya.

Salah dalam sisi nilai, namun sekali lagi, hanya dalam konteks wilayah dan daerah tertentu. Jika ada suatu daerah menilai hal tersebut masih dalam keadaan etis, maka pembakaran rumah tidak akan terjadi.

Sistem hukum di Indonesia dipengaruhi oleh sistem demokrasi. Menempatkan manusia berada dalam posisi yang setara dengan “tuhan”. Dalam sistem ini, manusia memiliki hak untuk membuat hukum dan menentukan benar salah. Terkait dengan sumber pokok Kitab Undang-Undang Pidana (Wetboek van Strafrecht)-nya pun diadopsi dari KUHP untuk golongan Eropa yang merupakan kopian dari Code Penal, yaitu Hukum Pidana di Prancis zaman Napoleon. Akibat diadopsinya hukum buatan manusia, batasan kejahatan berpotensi memicu kejahatan lain.

Kasus asusila yang telah penulis jabarkan di atas, jika akan dibijaki secara hukum, maka KUHP Pasal 284, perzinaan (persetubuhan di luar nikah) akan dikenakan sanksi bila dilakukan oleh pria dan wanita yang telah menikah. Ini berarti yang bersangkutan akan mendapat sanksi sesuai dengan yang tertuang di KUHP yaitu pelakunya dikenai 9 bulan penjara. Namun, hal itu berlaku jika ada pengaduan dari pihak yang dirugikan dalam hal ini adalah istri. Jika tidak ada gugatan?.

Dalam konteks ini, moral dan etika tidak dipakai lagi, meski rasa keadilan pasti terkoyak. Tidak ada yang bertanggungjawab atas shock yang dialami siswi korban, masa depannya, pengucilan, malu (terutama dari video yang dimungkinkan terus beredar).

Bagaimana potret pendidikan yang kemudian digeneralisasi dengan cap buruk, bagaimana makna guru yang mendapat “hukuman” termasuk yang bukan pelaku. Dan seterusnya.

Adalah sebuah kelayakan bagi penulis, jika massa dengan penilaian salah yang berlandaskan etika dan moral, memberikan ketetapan hukum sebagaimana persepsinya. Yang pasti di mata Tuhan semua masih ambigu.

Loading...