Wali Allah; Pengertian, Bagaimana, Siapa, dan Hal Seputar Wali Allah

Wali Allah

Pewaris Nabi adalah ulama. Namun ada juga yang turut serta meneruskan perjuangan Rasulullah saw, dialah para Waliyyullah atau Wali Allah. “Wali-wali-Ku berada di bawah kubah-kubahKu. Tidak ada yang mengetahuinya selain Aku” Demikian arti dari salah satu hadis Qudsi.

Wujud wali Allah pasti adanya, dan tak ada perdebatan lagi. Ibnu Taimiyah dalam salah satu ungkapannya mengatakan bahwa Wali Allah, adalah mereka yang tidak ada takut dalam diri mereka kecuali Allah, dan dalam diri mereka kadang ada karamah sebagai hujjah bagi umat.

Apa itu Wali Allah?

Dari sisi bahasa, kata “Wali” berarti dekat. Wali Allah adalah orang yang dekat dengan Allah. Bisa juga bermakna orang yang senantiasa mendekatkan dirinya dan dianggap dekat oleh Allah.

Kaum sufi beranggapan, bahwa para Wali Allah mendekatkan diri dengan menjernihkan hati sesuai tirakat dalam tasawuf. Sedangkan, dalam pandangan umum, proses mendekatkan diri dilakukan dengan memperbanyak kebajikan, menghilangkan maksiat dan keburukan.

Ada juga yang mengatakan, kalau Wali, berasal dari kata “al-wala” yang berarti, bantuan. Artinya, seorang Wali adalah pemelihara dan menjadi penolong terhadap agama Allah.

Siapa itu Wali Allah?

Dia seorang Wali Allah. Ah apa benar? Berdasarkan petunjuk hadis Qudsi sebelumnya, tak ada yang mengetahui seseorang wali atau bukan. Bahkan seorang wali tidak tahu bahwa dirinya wali, kecuali kalau pengetahuan itu karamah.

Siapa wali Allah? Kita hanya bisa melihat tanda-tanda yang ada.

Kebanyakan orang mengukur ke-wali-an dari hal mistis. Misal ada seseorang yang mampu berjalan di atas air, salat di atas pelepah batang daun pisang, atau kejadian luar biasa lainnya, dengan mudah dilantik sebagai Wali.

Belum tentu, karena karamah tidak serta merta, tidak untuk pamer, tapi kejadian mistis yang merupakan bagian dari karamah adalah untuk menolong agama Allah jua.

Berdasarkan petunjuk al-Quran dan hadis, ulama menyebutkan tanda-tanda wali Allah. Misal dalam tafsir al-Khazin, Ibnu Abbas bahwa Wali Allah itu adalah orang yang mengingat Allah dalam melihat.

Sejalan dengan hal itu, at-Thabari menukil hadis Nabi saw, bahwasanya wali Allah itu mereka melihat Allah saat mereka melihat.

Apa maksudnya? Semua yang dilihat dipahami sebagai kebesaran Allah. Saat melihat materi dunia, mereka senantiasa menjalankan penghambaan terhadapNya.

Sulit bukan?

Bagaimana Seseorang Itu bisa Menjadi Wali Allah?

Wali Allah bukan sesuatu yang bisa dicapai semau gue. Sesorang bisa menjadi wali dengan salah satu dari dua cara, pertama, merupakan karunia Allah, meski tanpa belajar, atau tanpa petunjuk dari seorang.

Hal itu berdasarkan firman Allah dalam surah as-Syuraa ayat 13; “Allah menarik kepada agama ini orang yang di kehendakiNya dan memberi petunjuk kepada agamaNya orang yang suka kembali kepadaNya.”

Kedua, karena usaha. Karena dengan amalan tertentu, Allah menaikkan derajat seseorang sebagi waliNya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw dalam hadis Qudsi:

“Allah berfirman: “Seorang yang memusuhi waliKu, maka Aku akan mengumumkan perang kepadanya. Tidak seorang pun dari hambaKu yang mendekat dirinya kepadaKu dengan amal-amal fardhu ataupun amal-amal sunnah sehinggai Aku menyayanginya…”

Tahukah seorang Wali kalau dirinya seorang Wali?

Untuk hal ini ada dua pendapat. Ada yang mengatakan seorang wali tahu kalau dirinya seorang wali. Ulama lain mengatakan tidak.

Opini Terkait
1 daripada 302

Hal ini berdasarkan perihal pandangan pengetahuan para wali. Pengetahuan, dapat memunculkan rasa kawatir dan takut. Sedangkan para wali tidak memiliki rasa takut kecuali kepada Allah. Yang berpendapat seperti ini menganggap wali tidak akan tahu dirinya seabagai seorang wali.

Adapun yang berpendapat bisa saja seorang wali, tahu kalau dirinya Wali, apabila pengetahuan itu adalah salah satu karamah kewalian yang ada pada dirinya.

Tanda-tanda seorang adalah Wali Allah

Berdasarkan al-Quran dan hadis Nabi saw, ada 8 tanda-tanda seorang dikatakan sebagai Wali Allah;

Pertama, wali Allah itu pastinya bertakwa kepada Allah. Dalam surah Yunus ayat 62-64 Allah swt berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.. Dan bagi mereka diberi berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat.”

Kedua, Wali Allah itu jika tidak ada, maka tak ada orang yang mencarinya. Hal ini berdsarkan, hadis yang yang diriwayatkan Abdullah Ibnu Umar Ibnu Khattab. Ketika suatu waktu Umar mendatangi tempat Mu’adz ibnu Jabal ra, kebetulan ia sedang menangis, maka Umar berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Mu’adz?”

Mu’adz lalu menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Orang-orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang bertakwa yang suka menyembunyikan diri, jika mereka tidak ada, maka tidak ada yang mencarinya, dan jika mereka hadir, maka mereka tidak dikenal. Mereka adalah para imam petunjuk dan para pelita ilmu.”

Ketiga, hadis yang diriwayatkan sunan Abi dawud, dari Said ra, saat Rasulullah saw ditanya siapa wali Allah? Maka beliau menjawab Wali Allah itu adalah orang-orang yang jika melihat, maka mereka melihat Allah

Keempat, wali itu penyayang kepada semua manusia. Dari Umar Ibnul Khattab ra, bahwasanya Rasulullah saw pernah bersabda: “Sesungguhnya sebagian hamba Allah ada orang-orang yang bukan dari golongan para nabi dan para syahid, tetapi kedua golongan ini ingin mendapatkan kedudukan seperti kedudukan mereka di sisi Allah.”

Kemudian salah seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka dan apa amal-amal mereka?”

Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling kasih sayang dengan sesamanya, meskipun tidak ada hubungan darah maupun harta di antara mereka. Demi Allah, wajah mereka memancarkan cahaya, mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak akan takut dan susah.”

Setelah mengucapkan hal itu, Rasulullah saw membacakan firman Allah surah Yunus ayat 62-64 tadi.

Kelima, wali Allah adalah orang yang selalu sabar, wara’ dan berperilaku baik. Ibnu Abbas ra, meriwayatkan hadis, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Ada tiga sifat yang jika dimiliki oleh seorang, maka ia akan menjadi wali Allah, yaitu pandai mengendalikan perasaannya di saat marah, wara’ dan berperilaku baik kepada orang lain.”

Keenam, Wali Allah selalu terhindar saat ada bencana. Ibnu Umar ra meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang diberi makan dengan rahmatNya dan diberi hidup dalam afiyahNya, jika Allah mematikan mereka, maka mereka akan dimasukkan ke dalam syurgaNya. Segala bencana yang tiba akan lenyap secepatnya di hadapan mereka, seperti lewatnya malam hari di hadapan mereka, dan mereka tidak terkena sedikitpun oleh bencana yang datang.”

Ketujuh, wali Allah hatinya senantiasa selalu terkait kepada Allah. Dalam Nahjul Balaghah Imam Ali Bin Abi Thalib berkata “Bumi ini tidak akan kosong dari hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari peredarannya.

Akan tetapi, berapakah jumlah mereka dan dimana mereka berada? Kiranya hanya Allah yang mengetahui tentang mereka.

Demi Allah, jumlah mereka tidak banyak, tetapi nilai mereka di sisi Allah sangat mulia. Dengan mereka, Allah menjaga agamaNya dan syariatNya, sampai dapat diterima oleh orang-orang seperti mereka. Mereka menyebarkan ilmu dan ruh keyakinan. Mereka tidak suka kemewahan, mereka senang dengan kesederhanaan.

Meskipun tubuh mereka berada di dunia, tetapi rohaninya membumbung ke alam malakut. Mereka adalah khalifah Allah di muka bumi dan para da’i kepada agamaNya yang lurus. Sungguh, betapa rindunya aku kepada mereka.”

Kedelapan, keinginan Wali selalu dikabulkan Allah. Anas ibnu Malik ra berkata bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Berapa banyak manusia lemah dan dekil yang selalu dihina orang, tetapi jika ia berkeinginan, maka Allah memenuhinya, dan al-Barra’ ibnu Malik, salah seorang di antara mereka.”

Suatu waktu dalam perang melawan kaum musyrikin, para sahabat meminta al-Barra’ berdoa, karena mereka mendengar sabda Nabi saw tadi. Lalu al-Barra’ berdoa: “Ya Allah, aku mohon, berilah kemenangan kaum Muslimin dan pertemukan aku dengan NabiMu.”

Dan benar, doa itu makbul. Kaum Muslimin menang dan al-Barra’ gugur sebagai syahid.

Wallahu A’lam

Komentar
Loading...