Wanita Hamil dan Menyusui, Qadha atau Fidyah?

Puasa Wanita Hamil

Heran, ada yang menelepon menanyakan, apakah wanita yang hamil atau wanita menyusui membayar fiyah saat puasa, atau hanya meng-qadha saja? Herannya, teman yang menelepon bisa-bisanya menanyakan hal itu, lagian masa ramdhan telah berlalu. Cek an ricek, memang jarang artikel yang membahas spesifik pertanyaan itu. Jadilah menjadi motivasi buat saya menulis celoteh wanita hamil dan menyusui, qadha atau fidyah?

(baca: ketentuan umum qadha dan fidyah).

Sebenarnya, apa yang diperintahkan tuhan dalam agama yang terangkum dalam aturan syariah, tujuan baiknya tiada lain bagi siapa yang melaksanakannya. Puasa hukumnya wajib, ada pula puasa sunnah, kondisi fisik wanita yang berbeda satu sama lain saat hamil atau menyusui, menyisakan pilihan melaksanakan yang wajib atau membiarkan fisik dalam kondisi berbahaya.

Tak kebayang, janin yang ada dalam perut bagi wanita hamil butuh sekitar 2300-an kalori setiap hari, lalu harus berkurang akibat puasa. Demikian pula bagi wanita menyusui yang butuh sekitar 2600-an kalori setiap hari. Kondisi inilah yang menimbulkan konsekuensi yang berbeda bagi para ibu dalam menjalankan puasa wajib terutama dalam bulan Ramadhan.

Bagi wanita yang cukup kuat, tentu tak ada masalah, namun beda bagi wanita yang lemah fisik. Ada dua kekhawatiran, khawatir dengan kondisi ibu dan khawatir dengan kondisi bayi dalam kandungan maupun bayi yang dalam tahap menyusu.

Dua kekhawatiran inilah yang sebenarnya menjadi landasan perbedaan ketetapan ulama terkait hukum apakah membayar fidyah atau meng-qadha Jika, ibu hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan keadaan dirinya saja bila berpuasa, maka ibu itu hanya wajib untuk meng-qadha, tanpa fidyah di hari lain ketika telah sanggup tanpa kekhawatiran lagi untuk berpuasa.

Hukum ini adalah qiyas dari keadaan yang disamakan dengan keadaan orang yang sedang sakit dan mengkhawatirkan keadaan dirinya.

“Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” Demikian ditegaskan dalam surah al-Baqarah ayat 184, sebagai dasar hukum utamanya.

Opini Terkait
1 daripada 90

Hukum ini sama dengan ibu hamil dan atau menyusui yang khawatir akan keadaan dirinya sekaligus khawatir dengan keadaan buah hati bila tetap berpuasa, maka wajib meng-qadha sebanyak hari-hari puasa yang ditinggalkan ketika sang ibu telah sanggup melaksanakannya.

Ulama madzhab syafi’iy sepakat akan hal tersebut, seperti yang dikatakan Imam Nawawi,

“Orang yang hamil dan menyusui, apabila keduanya khawatir dengan puasanya dapat membahayakan dirinya, maka dia berbuka dan mengqadha. Tidak ada fidyah karena dia seperti orang yang sakit dan semua ini tidak ada perselisihan. Demikian pula jika orang yang hamil dan menyusui khawatir dengan puasanya akan membahayakan dirinya dan anaknya, maka hendaklah dia berbuka dan mengqadha, tanpa ada perselisihan”.

Perbedaan pendapat muncul jika ibu hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan keadaan si buah hati saja, dan tidak khawatir dengan keadaan dirinya. Ibu kuat melaksanakan puasa, namun khawatir dengan keadaan anak dalam kandungan atau anak yang menyusu. Dugaan yang melahirkan kekhawatiran didukung dengan analisa dokter, atau hal lain seperti pengalaman keturunan, pernah trauma atau dukungan lain, jadi bukan semata-mata karena perasaan ibu saja.

Pendapat pertama, dari ulama madinah seperti Bin Baz, as-Said, dan ulama lainnya, dalam kondisi tersbut, mewajibkan meng-qadha saja, menyamakan dengan dua hukum sebelumnya.

Pendapat kedua, ulama seperti Syaikh Salim dan Syaikh Ali Hasan, mewajibkan membayar fidyah. Ini didasarkan pada hadis yang diriwwayatkan Ibnu Abbas ra, “Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.”

Pendapat ketiga, mewajibkan keduanya, yaitu meng-qadha sekaligus membayar fidyah. Alasannya, tidak ada satupun aturan dalam syariat yang menggugurkan qadha bagi orang yang mampu mengerjakannya, sedangkan dalam hal ini, ibu masih mampu melaksanakan puasa

(baca: membatalkan puasa, wajib qadha).

Nah, jelas bukan ? lalu aku pilih pendapat yang mana. Silahkan menentukan Anda memakai madzhab yang mana ? atau pilih salah satu, karena semua pendapat mengenai wanita hamil dan menyusui, qadha atau fidyah tadi, memiliki argumen naqli dan aqli yang jelas. Perbedaan pendapat ulama, meniscayakan kita kita menjalankan salah satu pendapat ulama tersebut dan berbeda dengan pendapat yang kita pilih, bukan malah tidak mengerjakan satupun dari pilihan itu.

Loading...