Wanita Korup Belum Mencapai Kuota; Wanita dan Korupsi

Gerakan peduli wanita atau perempuan, emansipasi atau apalah namanya muncul dan ingin memperjelas bahwa antara pria dan wanita tak perlu ada skat terutama pada wilayah sosial. Namun justru gerakan ke-wanita-an ini justru memperjelas bahwa antara wanita dan pria hampir semua lini itu berbeda. Asumsi saya sederhana, jika fisik wanita sangat berbeda dengan pria, maka akan berpengaruh terhadap pergerakan keseharian wanita tersebut. Bidan wanita, guru TK wanita, dan ibu rumah tangga wanita. Jika ada pria ingin melakoni hal itu, bisa saja, namun hasilnya akan berbeda.

Menjelang pemilu 2014, salah satu persyaratan oleh penyelenggara adalah kuota calon anggota legislatif harus diisi 30 % dari kalangan wanita. Aturan ini muncul dari perjuangan beberapa aktivis perempuan, namun justru memperjelas batasan peluang kontribusi pria dan wanita dalam kancah perpolitikan. Bukankah masih ada 70 % tersisa, dan itu menyalahi kesamaan hak pria dan wanita. Meski sudah ditentukan sebagai persyaratan, namun tetap saja peran wanita dalam kancah perpolitikan maupun hal lain masih jauh dari batas 30 %.

Beberapa waktu lalu, media ramai memberitakan keterlibatan beberapa wanita dalam kasus korupsi dan tindak pidana pencucian uang Ahmad Fathanah. Bahkan ada media menyebutkan bahwa jumlah wanita yang digadang-gadang terlibat dalam kasus ini kisaran 45 wanita. Cukup banyak. Wanita-wanita ini sebagian ada yang betul-betul buta terhadap politik dan hanya menjadi korban, namun ada pula sebagian lainnya adalah calon politisi.

Jika merunut pada sejarah, gonjang-ganjing pemberantasan korupsi di negeri ini, tidak lepas dari peran wanita. Meskipun beda peran, namun keterlibatan wanita dalam kasus korupsi dalam catatan KPK, lumayan banyak. Sebut saja, Miranda S Gultom, Nunun N, Neneng Istri Nazar, Mindo R, Anggelina S, dan asih banyak lagi.

Opini Terkait
1 daripada 304

Saya cukup heran, kenapa wanita yang selalu diperjuangkan ini dengan mudah terlibat kasus busuk korupsi?. Padahal, meski kecintaan wanita akan materi seperti perhiasan dan uang, wanita manapun jauh lebih berhati-hati dalam urusan materi. Saya melihat bahwa peran wanita terkait korupsi jauh lebih besar dipengaruhi oleh pekerjaan, suami-suami, dan orang sekitar mereka mereka. Karena melihat nama-nama wanita yang terlibat kasus korupsi, di dekat mereka terdapat nama-nama besar yang mudah dan bahkan terlibat korupsi.

Bahwa jumlah wanita terlibat korupsi memang belum mencapai kuota 30 % seperti persyaratan partai terhadap calon anggota legislatifnya, dan masih lebih jauh dari jumlah koruptor dari kalangan pria. Namun patut menjadi bahan perhatian jauh dari perhatian masalah kuota sebagai perlambang keadilan pria dan wanita.

karakter wanita sanguinis
Ilustrasi

Seharusnya wanita dapat lebih berperan dalam pemberantasan korupsi yang dapat dimulai dari rumahnya. Seperti di Skandinavia, negara yang tercatat paling kecil korupsinya, ternyata melaksanakan pola pemberantasan korupsi dengan peran wanita lebih besar. Hal itu dimulai di rumah, di sekolah dengan memberikan pemahaman kepada peserta didik dan anak dengan sentuhan ke-wanita-annya

“Wanita adalah guru terbaik,” kata Nabi saw, bisa menjadi modal utama untuk menempatkan wanita sebagai kepala rumah tangga dan menjadti pendidik utama terhadap anak-anak mereka untuk semua hal termasuk masalah korupsi, bukan malah memaksakan peluang dari imej hasil dari kesalahpahaman peran pria dan wanita. Karena, jika perjuangan persamaan pria dan wanita tidak berdasaerkan fitrah jenis kelamin masing-masing, saya khawatir kelak jumlah koruptor wanita akan sama dengan koruptor pria.

Komentar
Loading...