Yang Hilang dari Musabaqah Tilawatil Quran Virtual

Musabaqah Tilawatil Quran Virtual

Berbeda dari biasanya, perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran XXXI di Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan, tahun ini dilaksanakan secara virtual dengan protokol kesehatan yang ketat. Tak perlu tanya kenapa, sudah pasti akibat pandemi Covid 19 asal Wuhan, yang jumlah reaktif nya makin hari makin bertambah.

Sebenarnya, pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran secara virtual dan tatap muka adalah pilihan. Banyak provinsi sudah melaksanakan secara virtual dan tidak sedikit provinsi melaksanakan seperti biasa atau tatap muka. Beda! Bahkan kalau boleh dikata, ada hal penting yang hilang dari pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran secara virtual.

Musabaqah Tilawatil Quran bukan sekedar lomba baca tulis, hapal, dan pemahaman al-Quran semata. Lebih jauh, ada upaya membumikan al-Quran di sana. Ketika para peserta terbaik datang dari daerah masing-masing, masyarakat tempat pelaksanaan kedatangan tamu dan bukan tamu biasa. Para peserta akan tinggal di rumah-rumah penduduk, ada interaksi, ada silaturahmi di sana.

Bisa jadi, rumah yang ditempati jarang mendengar lantunan ayat suci al-Quran sebelumnya, tapi dengan kedatangan para kafilah, setiap saat lantunan itu akan terdengar. Bisa dibayangkan, jika para hafizh peserta Musabawah Hifzhil Quran punya waktu murajaah khatam al-Quran di rumah itu, ada berkah yang tersemai di tempat itu. Iblis, syaithan, jin, kuntilanak? Tak perlu dibahas lagi.

Saya ingat beberapa tahun lalu, tuan rumah akhirnya memasukan anaknya ke pondok pesantren, ke pondok tahfizh al-Quran. Mereka salut dengan para peserta Musabaqah Tilawatil Quran yang mondok sepekan di rumah mereka, dan berharap anak keturunannya ada yang seperti itu.

Dari sisi teknis pelaksanaan memang bisa dikondisikan, tapi tetap saja tak luput dari hal penting yang hilang dari Musabaqah Tilawatil Quran virtual.

Opini Terkait
1 daripada 303

Seorang peserta yang bertanding berhadapan langsung dengan dewan hakim, jauh berbeda saat tidak berhadapan langsung. Rata-rata peserta adalah santri, dan rata-rata dewan hakim adalah pembina pondok pesantren. Santri dan dewan hakim ibarat anak dengan orang tuanya. Ada aura khas di antara mereka.

Seorang peserta bisa saja membaca al-Quran dengan baik, lancar, di depan orang lain, tapi tidak ketika membaca al-Quran di depan gurunya. Dari sisi kemampuan peserta, sesungguhnya Musabaqah Tilawatil Quran juga menguji sejauh mana kemampuan seorang peserta mengatasi gejolak dalam diri mereka sendiri. Ada uji adrenalin di sana, yang tidak bisa ditemukan dalam Musabaqah Tilawatil Quran virtual.

Virtual tetaplah virtual! Virtual adalah kenyataan yang tidak nyata. Kemaren ada peserta yang tampil indah di depan kamera di daerah masing masing. Suaranya melengking dengan cengkok melayu yang pas. Itu nyata! Sayang, ketika mendengar ulang melalui dunia virtual, keindahan itu terganggu entah karena jaringan atau apa.

Nasi telah menjadi bubur. Musabaqah Tilawatil Quran tingkat Provinsi Sulawesi Selatan secara virtual sudah dilaksanakan, dan hasilnya akan diumumkan besok. Hasil itu juga yang akan mewakili Provinsi di kancah Nasional.

Pandemi covid 19 memaksa kita memilih langkah yang dianggap terbaik, meski ada hal penting yang hilang di sana. Musabaqah Tilawatil Quran secara virtual salah satu contohnya.

Komentar
Loading...