Dzikir dan Mekanisme Dzikir

0 23

Dzikir bukan “produk jadi” yang langsung dapat dipakai, tapi sebagai olahan keinginan yang kuat dalam menemukan kesadaran universal (kesadaran ber-Tuhan). Alasan ini yang menjadikan perlu adanya penyiapan dahulu untuk menuju gerbang dzikir yakni niat.

Niat itu sendiri identik dengan maksud, keinginan, kehendak, keinginan yang kuat, dan menyengaja. Niat adalah tujuan yang terbetik di dalam hati. Niat adalah sesuatu yang wajib dalam ibadah atau syarat sahnya ibadah dan juga pembersih hati dari timpangnya agar lurus

Dzikir adalah pembuka hati, yang kemudian dilaporkan pada kerja pikir. Pikiran ini secara perlahan sejuk dan memunculkan pertalian dengan hati sehingga melahirkan kata-kata bijak. Kerjasama ini sangat detail, profesional dan memiliki kekuatan check and balances di dalamnya ke semua lima indra sampai melahirkan ke indra enam (mata ketiga), dan terus berjalan menuju tataran tingkatan melebur bersama Yang Maha segala Maha (fana).

Dzikir dari arah ini memiliki kekuatan penumbuh bagi power tubuh yang tersembunyi dan dapat memunculkan kekuatan penyembuhan, dimana konsentrasinya saja mampu menurunkan tekanan darah dan memperlambat metabolisme tubuh. Dzikir akan melahirkan sikap pro-aktif yang positif pada berbagai pengalaman (experiences).

Adapun suara dari irama dzikir mampu menciptakan ketenangan di otak dan merelaksasikan kondisi. Sedangkan pikiran zakir secara prinsipil mengalami peningkatan gelombang otak yang koheren ke beberapa frekuensi (termasuk 40 Hz) di banyak bagian otak.

Akhirnya memunculkan kesadaran dengan memasuki wilayah keutuhan yang disertai menyatunya osilasi sel saraf otak. Dari sini maka dapat ditanyakan, mengapa dzikir mampu mengalirkan irama ketentraman jiwa?. Dasar dari validitas informasi statemen ini adalah mengacu pada Q.S. al-Ra’du ayat 28.

Perlu diketahui bahwa pada saat berdzikir maka kekuatan sadar dan bawah sadar akan mengadakan kontak langsung (direct contact) dan menata kerelaksasian dalam diri dzikir kemudian terus menyambung ke hati dan membentuk kemanusiaannya.

Tarikan berdzikir tidak hanya sebagai hidayah tapi juga sebagai hati yang mendengar suara kebenaran yang bila dikerjakan maka ia mampu bersama dengan tentramnya dan bersama yang dizikirkannya. Hal senada kadang diistilahkan dengan meditasi (di luar khazanah Islam). Namun demikian meditasi pun menjadi acceptable (dapat diterima) oleh masyarakat sebagai peristilahan yang general.

Dzikir adalah kesadaran melawan ketidak-sadaranan. Dzikir secara praktis adalah tingkah laku lahiriah (behaviour) adapun secara teoritik dzikir pun memiliki dimensi spiritual (jiwa) yang bertimbal balik dengan aneka tingkah lahiriah.

Dzikir yang sudah memasuki tahapan tenggelam dalam dzikir maka sebenarnya pengaruh emosi sedang dalam olahan lanjutan amigdala karena dari sini amigdala akan menerima signal neuronal dari semua bagian korteks lobus temporal, parietal dan oksipital terutama dari area asosiasi auditorik dan area asosiasi visual.

Dzikir adalah jalan menuju Tuhan (shirathal mustaqiim). Perangkat kerasnya adalah otak (brain). Akal adalah kehidupannya si otak. Dzikir adalah mengingat dan juga menyebut, maka lebih tepat dikatakan bahwa dzikir adalah sinyal menuju sumber pikiran yakni Yang Maha segala Maha.

Pikiran yang sudah bersama Yang Maha segala Maha disebut tafakkur dan sifat ini dapat hilang jika ingat kepada Yang Maha segala Maha memudar, maka memudar pula kestabilan kekuatan otaknya.

Hal itu dapat dibuktikan bahwa orang yang minus berdzikir tak mampu mecerapi kehidupan secara bermakna atau mudah berbuat keliru, entah itu duduknya, tidurnya, bicaranya, sikapnya, egonya, atau apa sajanya, akan tidak terbina oleh alunan dzikir sehingga terlepaslah sosok pribadi yang tidak berdzikir dari hidayah secara lengkap dari setiap getaran hati terdalamnya.

Secara garis besar garis-garis besar mekanisme kerja dzikir terdiri dari dzikir sebagai kerja hati (heart action) dengan nuansa ful rasa, dzikir juga sebagai kerja akal (brain action) yang bernuansakan pemikiran dan perenungan atau kontemplatif dan visualisasi. Pada sisi lain dzikir adalah kerja hati dan akal (heart and brain action) sekaligus, artinya pengalaman yang dipikirkan bersambung dengan pengalaman merasakan secara langsung. Inilah yang untuk kemudian disebut tersingkapnya sebuah hijab.

Dzikir adalah tarikan gerak indra pengucap (mulut) untuk membuka inner sense (indra dalam) sebagai alat pembuka pintu hati maupun mata hati/bashirah. Dzikir adalah gerak kerja hati (SQ) sebab aktifitasnya mampu merasakan kehadiran Yang Maha segala Maha.

Tehnis dzikir dijalankan dengan penataan diri, memperhatikan penataan tersebut dan kemudian mengerjakan apa yang ditata atau yang diniatkan. Dzikir menjadi sebuah kekuatan berpikir (berpikir universal) karena obyeknya adalah Yang Maha segala Maha. Hati merasakan kebenaran, dan akal mempelajari kebenaran dengan proses berpikir. Psikologi menjelaskan bahwa proses berpikir (tafakkur), dengan diawali dari indra, kemudian disalurkan lewat saraf pada zona imaginasi yang terletak di bagian depan otak.

Jadi proses kerja dzikir pada dataran ini adalah dzikir harus dilakukan dengan dzikir. Bertafakkur (berpikir dan merenung) adalah bentuk lain dari start menuju merasakan (membuka hati). Pada kondisi ini hati dan akal secara bersamaan mengadakan kontak dan saling memberi tampilan pada alamnya, yakni manusia sebagai alam raya sel dan akan bergerak sesuai garis orbit menuju Yang Maha segala Maha (bervertikalisasi) dan memunculkan kontrol tampilan sebagai gerakan.

Hasil dari cara kerja dzikir ini akhirnya menjalar ke wujud imateri yakni ketenangan jiwa sebagai puncak bukti duniawi seseorang dalam prestasi dzikirnya. Sedangkan asal-usul dari jiwa bersumber dari Jiwa Universal (Tuhan) yang perkembangannya dipengaruhi oleh materi sekitarnya. Maka agar potensi jiwa tidak mengalami kekecewaan pada perkembangannya maka jiwa dibantu akal (aksi otak).

Dzikir dan jiwa memiliki fitrah koneksi sehingga substansi jiwa terkontrol oleh otot-otot dan alat-alat perasa secara natural. Jiwa perlu tubuh untuk penyempurnaannya walaupun sisi adanya adalah bebas dari tubuh, tapi tubuh bersambung ke jiwa lewat jalur tiap gerak dasar spiritual (insting selalu ke Tuhan).

Dzikir dalam praktik kekuatan lisan dan gerak tubuh, sangat membantu secara langsung pada kesadaran sejarah datangnya ke alam dunia maupun kehidupan alam janin yang full-mysteries bagi calon manusia beserta kerahasiaannya. Hal itu ditunjukkan dengan penarikan konsentrasi dzikir dari arah pusar.

 

Komentar
Loading...